**Senyum yang Membuat Dunia Terdiam** Kabut tipis menggantung di atas Danau Bulan Sabit, permukaannya tenang seperti cermin yang menyimpan rahasia purba. Xiao Mei, seorang pelukis muda yang baru saja pindah ke desa terpencil itu, berdiri di tepi danau, kuas di tangannya bergetar. Udara dipenuhi aroma melati yang pahit, mengingatkannya pada sesuatu... *seseorang*... yang dia tidak bisa ingat. Setiap malam, mimpi aneh menghantuinya. Istana megah yang runtuh, gaun sutra merah yang ternoda darah, dan wajah seorang pria – tampan, namun kejam – yang berbisik, "Kau akan *membayar*, Mei Lan." Xiao Mei bukan Mei Lan. Dia tahu itu. Tapi semakin dia berusaha menepis mimpi-mimpi itu, semakin kuat pula cengkeramannya pada ingatannya. Dia mulai melukis adegan-adegan dari mimpinya, tanpa bisa mengendalikan tangannya sendiri. Lukisan-lukisan itu dipenuhi kesedihan yang mendalam, dan di setiap kanvas, wajah pria itu semakin jelas. Suatu sore, saat sedang melukis di pasar desa, seorang pria tua mendekatinya. Matanya yang keriput dipenuhi air mata saat dia melihat lukisan Xiao Mei. "Itu dia," gumamnya. "Pangeran Li Wei... dan Mei Lan. Kalian berdua tragis." Pria tua itu, yang ternyata seorang pustakawan desa yang menyimpan legenda kuno, menceritakan kisah Mei Lan, seorang selir istana yang *dicintai* dan kemudian *dikhianati* oleh Pangeran Li Wei. Dia dituduh berkhianat dan dieksekusi, padahal dia tidak bersalah. Ingatan Xiao Mei *meledak*. Dia mengingat segalanya. Penghinaan, siksaan, dan akhirnya... pedang yang mengakhiri hidupnya. Pangeran Li Wei yang *tercinta* yang ternyata adalah dalang di balik semua ini. Tentu saja, Pangeran Li Wei sudah lama mati. Tapi karmanya belum. Di desa itu, dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Bai Jun, seorang pengusaha yang sangat sukses dan berkarisma. Bai Jun memiliki senyum yang **MENAWAN**, yang membuat semua orang di sekitarnya merasa nyaman. Tapi ada sesuatu yang aneh dalam senyum itu, sesuatu yang... *familiar*. Xiao Mei perlahan menyadari bahwa Bai Jun adalah reinkarnasi Pangeran Li Wei. Bukan balas dendam *fisik* yang dia cari. Bukan pertumpahan darah. Yang dia inginkan adalah keadilan kosmis. Dia menggunakan ingatannya dari kehidupan sebelumnya, keahliannya sebagai pelukis, dan pemahamannya tentang karakter Li Wei untuk merencanakan balas dendamnya. Dia mendekati Bai Jun, menjadi kepercayaannya, dan secara halus mengarahkan keputusannya, memastikan bahwa bisnisnya yang ambisius akan runtuh. Setiap langkahnya diperhitungkan, setiap senyum yang dia berikan kepada Bai Jun terasa seperti *racun manis*. Dia memastikan bahwa kebangkrutan Bai Jun akan *menghancurkan* reputasinya, membuatnya menjadi orang buangan, sama seperti dia di kehidupan sebelumnya. Di malam terakhirnya di desa, Xiao Mei berdiri di tepi Danau Bulan Sabit, menatap pantulan bulan. Dia tahu Bai Jun telah kehilangan segalanya. Dia telah merasakan sakit yang pernah dia rasakan. Saat dia berbalik untuk pergi, dia mendengar suara Bai Jun di belakangnya. "Mei Lan...?" Xiao Mei tidak menoleh. Dia hanya tersenyum – senyum yang membuat dunia terdiam. "Mungkin... di kehidupan selanjutnya," bisiknya, dan menghilang di balik kabut, meninggalkan janji yang tertunda seribu tahun!
You Might Also Like: Arti Mimpi Memberi Makan Katak Bangkong

Share on Facebook