Baik, inilah kisah pendek yang terinspirasi dari dracin 'Janji yang Kubayar dengan Pengkhianatan', dengan sentuhan yang Anda inginkan: **Kabut Senja di Jembatan Berdarah** Hujan menggigil mengguyur Kota Yu, persis seperti lima belas tahun lalu. Aroma tanah basah menusuk hidung, membangkitkan kenangan pahit yang sudah lama terkubur. Aku berdiri di Jembatan Batu Seribu Tahun, tempat *kami* dulu berjanji sehidup semati. Di kejauhan, siluet Istana Timur tampak muram diterpa badai. Dulu, aku adalah Linhua, putri bungsu dari Jenderal Agung. Sekarang, aku hanyalah Lin, *pedagang* kain sutra yang menyembunyikan identitas. Aku menatap bayanganku yang patah di genangan air. Setiap tetes hujan adalah air mata masa lalu, setiap gemuruh petir adalah amarah yang tak terpadamkan. Di ujung jembatan, sosok itu muncul. Zifeng, *kaisar* yang dulunya adalah kekasihku. Wajahnya tampak lebih tua, lebih keras. Cahaya lentera yang dipegangnya nyaris padam, berkedip-kedip seperti harapan yang sekarat. "Lin," sapanya, suaranya serak. "Kau datang." Aku tersenyum pahit. "Aku selalu menepati janji, Kaisar Zifeng. Bahkan janji untuk membalas dendam." Dulu, aku mencintainya dengan segenap jiwa. Aku mempercayainya lebih dari diriku sendiri. Tapi dia, demi tahta dan ambisinya, menuduh ayahku berkhianat dan membantai seluruh keluargaku. Aku satu-satunya yang selamat, berkat pengorbanan seorang pelayan setia. "Mengapa?" bisik Zifeng, matanya memancarkan kebingungan. "Mengapa kau melakukan ini padaku? Aku… aku mencintaimu." Aku tertawa hampa. "Cinta? Kau tahu apa arti cinta, Kaisar? Cintamu berlumuran darah keluargaku! Cintamu adalah pengkhianatan!" Lima belas tahun aku hidup dalam bayangan, mengumpulkan kekuatan, menyusun rencana. Setiap senyum yang kupaksakan, setiap sapaan ramah, adalah topeng yang menyembunyikan dendam membara. Aku membangun kerajaan bisnisku dari nol, hanya untuk menjatuhkanmu, Zifeng. Untuk melihatmu hancur seperti aku dulu hancur. Kulihat raut wajahnya berubah menjadi putus asa. Tangannya gemetar, lentera yang dipegangnya jatuh ke tanah, padam sepenuhnya. Kegelapan menyelimuti kami. "Kau… kau meracuni *obatku*?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar. Aku mengangguk, bibirku membentuk senyuman dingin. "Setiap hari, selama lima tahun terakhir. Perlahan, tanpa jejak. Seperti caramu menghancurkan hidupku." Zifeng terhuyung mundur, memegangi dadanya. "Tapi… tapi mengapa aku merasa tidak enak baru sekarang?" Aku mendekat, membisikkan sebuah rahasia yang selama ini kupendam rapat-rapat. "Karena *akulah* yang menyuruh tabib kerajaan membuat obat itu, dan *akulah* yang menggantinya dengan racun... **_Ayahmu_**."
You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Masuk Rumah

Share on Facebook