Oke, ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari dracin dengan tema tersebut, dengan sentuhan yang saya coba padukan dengan permintaan Anda: **Senja di Lembah Terlarang** Hujan menggigil. Sama seperti dulu, tujuh tahun lalu. Airnya menampar wajahku, mencuci debu jalanan yang kulalui. Tapi ia tak mampu membersihkan **noda** itu. Noda pengkhianatan. Di depanku berdiri sebuah pondok bambu reyot, cahayanya meredup seperti lentera yang kehabisan minyak. Di dalamnya, dia menunggu. Li Wei. Dulu, matanya adalah matahariku. Sekarang, bayangannya saja sudah cukup membuat napasku tercekat. Aku melangkah masuk. Bau tanah basah dan aroma dupa menyambutku. Li Wei duduk di dekat perapian, punggungnya menghadapku. Rambutnya yang dulu terurai panjang kini dipangkas pendek. Lebih kurus. Lebih rapuh. Atau begitukah yang ingin dia tunjukkan? "Kau datang," bisiknya tanpa menoleh. Suaranya bergetar, nyaris hilang ditelan deru hujan. "Aku datang," jawabku. Dulu, aku akan berlari memeluknya. Sekarang, jarak di antara kami terasa seperti jurang yang tak bisa diseberangi. "Kau tahu kenapa aku memintamu datang ke sini?" Aku tahu. Tapi aku ingin mendengarnya dari bibirnya. Aku ingin merasakan sakitnya lagi. Aku ingin mengingat setiap detail dari **KEHANCURAN** itu. "Karena kau ingin membalas dendam," jawabku lirih. Dia berbalik. Matanya, yang dulu memancarkan cinta, kini dipenuhi kabut kesedihan dan… **KEBENCINAN**. "Dendam?" dia tertawa sinis. "Oh, aku tidak pernah berniat membalas dendam. Balas dendam terlalu sederhana untuk apa yang *kau* lakukan padaku." Dia berdiri, mendekatiku. Setiap langkahnya terasa seperti tetesan hujan yang jatuh di atas batu nisan. Dingin. Mematikan. "Kau ingat sumpah kita di bawah pohon sakura dulu? Sumpah untuk tidak pernah berpisah, bahkan maut sekalipun?" Aku mengangguk. Sumpah itu… sekarang hanyalah **JEJAK BERDARAH** di hatiku. "Kau melanggarnya. Kau memilih dia. Meninggalkanku terkapar sendirian." "Aku… aku dipaksa," ujarku. Alasan klise. Alasan yang tak akan pernah bisa menebus kesalahanku. "Dipaksa? Atau KAU MEMANG MENGINGINKANNYA?" Dia meraih sebuah pisau belati dari balik jubahnya. Cahaya lentera menari-nari di bilahnya yang tajam. Matanya berkilat. Bukan kilat cinta, tapi kilat… kegilaan? "Kau tahu," bisiknya serak, "selama tujuh tahun ini, aku hidup hanya untuk satu tujuan: membuatmu merasakan sakit yang sama. Sakit yang kurasakan saat kau menusuk jantungku dengan pengkhianatanmu." Pisau itu bergerak. Cepat. Tepat sasaran. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Tapi anehnya, aku juga merasakan kedamaian. Mungkin, ini memang penebusan dosaku. Mungkin, inilah akhir dari segalanya. Saat kesadaranku mulai menghilang, Li Wei membisikkan sesuatu di telingaku. Sesuatu yang membuat darahku membeku. "Kau pikir ini semua kebetulan? Kau pikir aku yang merencanakan semua ini? *Kau salah. Akulah yang telah ditunggangi selama ini. Dan itu…* adalah alasan kenapa kau harus mati di sini."
You Might Also Like: Agen Skincare Passive Income Kota Bogor

Share on Facebook