FULL DRAMA! Pedang Itu Menyimpan Kenangan Terakhir, Tentang Cinta Yang Tak Sempat Selesai
Pedang Itu Menyimpan Kenangan Terakhir, Tentang Cinta Yang Tak Sempat Selesai
Lorong istana KUNO itu sunyi. Debu bertebaran seperti kenangan yang terlupakan, menempel di sutra merah yang dulunya semarak. Di kejauhan, obor menari-nari, melemparkan bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di ujung lorong, berdiri sosok yang lama dianggap mati: Pangeran Zhao.
Sepuluh tahun berlalu sejak pengkhianatan itu. Sepuluh tahun sejak pedang menusuk jantungnya. Sekarang, ia kembali. Bukan untuk tahta, melainkan untuk kebenaran.
"Nona Mei," sapa Pangeran Zhao, suaranya rendah namun tegas. Mei, yang kini menjadi Permaisuri Agung, membalikkan badan. Gaun phoenix merahnya berkilauan, tapi matanya menyimpan dingin yang lebih menusuk dari bilah pedang.
"Zhao? Kukira kau sudah menjadi debu," desis Mei, nada suaranya bagai belati tersembunyi.
"Debu kenangan memang sulit dihilangkan, Nona Mei. Sama sulitnya dengan kebohongan yang kau tanam," balas Pangeran Zhao, matanya tajam menelisik. "Pedang itu… pedang yang seharusnya menusukku, justru membuka mataku."
Mei tertawa hambar. "Omong kosong! Kau berkhianat! Kau pantas mati!"
"Benarkah? Atau kau yang memanipulasi semuanya?" Pangeran Zhao melangkah mendekat. Cahaya obor menari di wajahnya, menyoroti guratan luka yang menjadi bukti pengkhianatan. "Ingatkah kau kabut di Gunung Baiyun? Saat kau 'menemukanku' terluka parah? Kau tahu, bukan? Kau tahu rencana pembunuhan itu, bahkan mungkin… kaulah yang merencanakannya."
Mei terdiam. Keheningan istana terasa semakin menyesakkan. Hanya suara napas yang terdengar, bagai dentang pedang yang siap beradu.
"Aku… aku hanya ingin melindungimu!" Mei berseru, air mata buaya mulai mengalir. "Mereka ingin merebut tahtamu! Aku hanya…"
"Cukup!" Pangeran Zhao mengangkat tangannya. "Kau menginginkan tahta itu untuk dirimu sendiri, bukan? Kaulah dalang di balik semuanya. Kau menggunakan cinta, kesetiaan, bahkan darah, untuk mencapai tujuanmu."
Mei menunduk, bahunya bergetar. Lalu, ia mengangkat wajahnya. Senyum dingin menyungging di bibirnya.
"Ya," bisiknya. "Kau benar. Aku menginginkannya. Dan aku mendapatkannya. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, Pangeran Zhao? Membunuhku? Merusak reputasiku? Terlambat. Semuanya sudah menjadi milikku."
Pangeran Zhao menatap Mei, raut wajahnya tak terbaca. Ia meraih gagang pedang di pinggangnya. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk meletakkannya di lantai.
"Ambillah," ucapnya lirih. "Pedang ini menyimpan kenangan terakhir kita. Kenangan tentang cinta yang tak sempat selesai, karena ambisimu."
Mei memandangi pedang itu. Lalu, ia menatap Pangeran Zhao, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Kau tahu, Zhao," bisiknya. "Kau hanyalah pion dalam permainanku. Dan pion, selalu dikorbankan."
Dan di lorong istana yang sunyi itu, kebenaran terungkap. Pihak yang dianggap korban, memegang kendali sejak awal. Dan akhirnya, Pangeran Zhao menyadari: cintanya adalah kelemahan terbesarnya, dan Mei telah memanfaatkannya dengan sempurna.
You Might Also Like: Cerpen Keren Kau Mati Di Sisiku Tapi