Wajib Baca! Air Mata Yang Membakar Doa
Lorong istana Dingin, heningnya memekakkan telinga. Obor-obor yang berkedip menari-nari di dinding, bayangannya membentuk siluet mengerikan seolah mengintai setiap langkah Putri Lian. Ia berjalan dengan anggun, sutra merahnya terseret lembut di atas lantai marmer, namun hatinya bergemuruh bagai badai yang siap menghancurkan.
Lima tahun lalu, Pangeran Rui, tunangannya, dinyatakan hilang di Pegunungan Qian. Kabut tebal dan longsoran salju menelan dirinya tanpa jejak. Semua orang mengira ia telah mati. SEMUA ORANG, kecuali Putri Lian.
Di ujung lorong, berdiri sosok yang sudah lama ia nantikan. Pangeran Rui? Bukan. Sosok itu terlalu tinggi, terlalu tegap. Wajahnya tertutup bayangan tudung yang dalam.
"Kau… kembali," ucap Putri Lian, suaranya nyaris berbisik.
Sosok itu mengangkat wajahnya. Bekas luka membentang di pipi kirinya, merusak ketampanan yang dulu membuatnya begitu mempesona.
"Lian," sahutnya, suaranya berat, bergetar. "Sudah lama."
"Lima tahun. Lima tahun aku menunggumu menjelaskan… kenapa."
"Kenapa aku menghilang? Atau kenapa aku kembali?" Sosok itu, yang ternyata adalah Xian, mantan pengawal Pangeran Rui, melangkah mendekat. Aroma dupa dan darah kering menguar dari tubuhnya.
"Keduanya sama saja," jawab Putri Lian, matanya berkilat marah. "Pangeran Rui tidak pernah menginjakkan kaki di Pegunungan Qian. Kau yang membawanya pergi. Kau yang menyembunyikannya."
Xian tertawa pahit. "Pangeran Rui terlalu lemah. Terlalu bergantung pada belas kasihan. Ia tidak pantas menduduki Tahta Naga."
"Kau! Kau mengkhianati sumpahmu!"
"Sumpah hanyalah kata-kata, Lian. Kekuasaan adalah nyata." Xian berhenti tepat di depannya. "Pangeran Rui tidak mati. Ia hidup, tersembunyi. Dan aku… aku adalah mata, telinga, dan tangannya yang sebenarnya."
Putri Lian menelan ludah. Ketakutan merayapi hatinya, namun ia berusaha untuk tidak gentar. "Kau pikir aku akan percaya omong kosong ini? Pangeran Rui tidak mungkin menyetujui pengkhianatan ini."
Xian menyeringai. "Kau meremehkannya. Pangeran Rui… meminta perlindungan. Ia merasa tidak siap. Aku hanya menuruti perintahnya. Aku adalah alatnya."
Putri Lian mundur selangkah. Kebenaran ini terlalu pahit untuk ditelan. Selama ini, ia percaya bahwa Pangeran Rui adalah korban. Korban konspirasi, korban ketidakberuntungan. Tapi sekarang…
"Air mata yang selama ini kau tumpahkan untuknya, Lian… itu adalah air mata yang kau tumpahkan untuk dirimu sendiri. Karena sejak awal, Pangeran Rui-lah yang memegang kendali atas takdir kita semua. Ia membiarkanmu percaya apa yang ingin kau percayai. Ia menggunakanmu sebagai perisai."
Xian mendekat, tangannya meraih pipi Putri Lian. "Dan sekarang, Lian… waktunya bagimu untuk memilih pihak. Bergabunglah dengannya. Bersama, kita bisa menciptakan kerajaan yang baru."
Putri Lian menatap mata Xian, matanya berkaca-kaca. Di sana, ia melihat bukan hanya kesetiaan, tetapi juga Ambisi yang membara. Ia mengerti sekarang. Pangeran Rui tidak lemah. Ia licik. Dan ia, Putri Lian, telah menjadi pion dalam permainannya yang gelap.
Putri Lian mendorong tangan Xian, air matanya mengalir deras. "Kau salah. Aku tidak akan memilih pihak mana pun. Aku akan membongkar semuanya. Aku akan mengungkapkan kebenaran sejati."
Xian tertawa. "Terlambat, Lian. Rencananya sudah berjalan terlalu jauh. Kau tidak akan bisa menghentikannya."
Putri Lian tersenyum pahit, air matanya kini terasa membakar. "Justru karena itu, maka aku harus mencoba. Aku harus menghentikannya… meski harus mengorbankan segalanya."
Di lorong istana yang dingin, Putri Lian berdiri tegak, air matanya yang membakar menjadi sumpah dan senjatanya. Dan Xian, pengawal setia, hanya bisa menatapnya dengan campuran kekaguman dan penyesalan, karena ia tahu, kebenaran yang akan diungkapkan Putri Lian… adalah kebenaran yang akan menghancurkan semua yang telah mereka bangun, sebuah kebenaran yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri: bahwa Pangeran yang lemah itu telah merajut jaring kebohongan yang begitu rumit sehingga tidak ada seorang pun yang bisa lolos, dan Putri Lian, dalam kepolosannya, adalah kunci untuk mengencangkan simpul terakhir jaring itu.
You Might Also Like: Unveiling Labyrinth Of Contracts