TOP! Kau Datang Di Musim Gugur, Tapi Meninggalkan Musim Dingin Di Hatiku
Kau Datang di Musim Gugur, Tapi Meninggalkan Musim Dingin di Hatiku
Musim gugur di Beijing kala itu begitu indah. Daun-daun maple berguguran, menari-nari di udara sebelum jatuh ke tanah, membentuk karpet berwarna jingga dan merah. Di tengah keindahan itu, Li Wei bertemu dengan Zhang Hao. Tatapan mata Zhang Hao sehangat matahari sore, senyumnya mampu meluluhkan bongkahan es sekalipun.
Zhang Hao datang seperti angin musim gugur, menyegarkan dan membawa harapan baru. Li Wei, seorang desainer perhiasan ternama, yang selama ini tenggelam dalam kesibukan dan kesendirian, akhirnya menemukan secercah kebahagiaan. Mereka menghabiskan waktu bersama, menikmati xiaolongbao hangat di jalanan Wangfujing, tertawa di atas perahu di Danau Houhai, dan berbagi mimpi di bawah bintang-bintang di Observatorium Kuno Beijing.
"Aku berjanji, Wei," bisik Zhang Hao suatu malam, menggenggam erat tangannya. "Aku akan selalu ada di sisimu."
Janji itu terasa begitu manis, seperti madu yang menetes di lidah. Li Wei percaya. Ia memberikan hatinya sepenuhnya pada Zhang Hao. Ia tidak tahu, janji itu akan berubah menjadi belati yang menusuk jantungnya.
Musim dingin tiba. Salju mulai turun, menutupi kota dengan selimut putih. Bersamaan dengan itu, kebenaran terungkap. Zhang Hao, pria yang dicintainya dengan sepenuh hati, ternyata memiliki tunangan. Seorang pewaris konglomerat besar, yang kekayaannya jauh melebihi apa yang bisa Li Wei bayangkan.
Dunia Li Wei runtuh. Namun, di balik wajahnya yang elegan dan senyumnya yang menipu, ia menyembunyikan luka yang menganga. Ia tidak menangis, tidak berteriak. Ia hanya diam, membiarkan musim dingin membekukan hatinya.
Pelukan Zhang Hao kini terasa beracun, kata-katanya bagai duri yang menusuk. Li Wei memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Bukan dengan air mata, bukan dengan amarah, tapi dengan sebuah rencana yang dingin dan terukur.
Ia tidak menuntut penjelasan, tidak meminta maaf. Ia hanya melepaskan Zhang Hao, membiarkannya kembali ke dunianya yang penuh kemewahan dan kepalsuan. Namun, sebelum itu, ia memastikan satu hal: reputasi Zhang Hao hancur berkeping-keping.
Li Wei menggunakan keahliannya sebagai desainer perhiasan untuk mengungkap kebusukan di balik bisnis keluarga Zhang Hao. Ia membocorkan informasi rahasia kepada media, mengungkap praktik korupsi dan penipuan yang selama ini ditutupi dengan rapat.
Skandal itu mengguncang Beijing. Keluarga Zhang Hao kehilangan segalanya: kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan. Zhang Hao, yang dulunya dipuja dan dihormati, kini menjadi bahan cemoohan dan hinaan.
Li Wei menyaksikan kehancuran itu dari kejauhan, dengan senyum tipis di bibirnya. Balas dendam ini terasa manis, namun juga pahit. Ia telah menghancurkan pria yang dicintainya, namun ia juga telah menghancurkan sebagian dari dirinya sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, Li Wei menjadi semakin sukses. Ia memiliki butik perhiasan sendiri di Paris, dan namanya dikenal di seluruh dunia. Ia hidup dalam kemewahan dan kemandirian, namun hatinya tetap dingin. Ia tidak pernah lagi jatuh cinta, takut untuk terluka lagi.
Suatu malam, ia menerima sebuah paket anonim. Di dalamnya, terdapat sebuah liontin yang sangat familiar. Liontin itu adalah hadiah yang pernah ia berikan kepada Zhang Hao, dengan ukiran nama mereka berdua di permukaannya.
Di dalam kotak itu, juga terdapat sebuah surat tanpa nama. Dengan gaya tulisan yang sangat dikenali Li Wei, surat itu berisi satu kalimat saja: "Aku menyesal."
Li Wei memandang liontin itu, air mata akhirnya mengalir di pipinya. Ia mengerti. Zhang Hao telah kehilangan segalanya, bukan hanya kekayaan dan kekuasaan, tapi juga kebahagiaan dan cinta. Ia hidup dalam penyesalan yang abadi.
Li Wei menutup matanya, merasakan sakit yang mendalam di hatinya. Ia tahu, balas dendamnya telah berhasil. Namun, kemenangan ini terasa hampa. Ia telah membalas dendam, tapi ia tidak pernah bisa melupakan.
Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama, bukan begitu?
You Might Also Like: Agen Kosmetik Fleksibel Kerja Dari