Cerpen Terbaru: Aku Menulis Puisi Untukmu, Tapi Tak Berani Menyebut Nama
Aku Menulis Puisi Untukmu, Tapi Tak Berani Menyebut Nama
Angin bambu berdesir di paviliun tua, sama seperti dulu saat kami masih kecil. Dulu, tawa kami mengisi udara, sekarang hanya suara kecapi tua yang mendayu pilu. Mei Hua, kakakku, sahabatku, MUSUHKU.
"Anggrek Bulan, anggurmu semakin pahit saja," ujarmu, senyum terlukis manis di bibirmu yang dulu sering mengejekku. Kata-katamu lembut bagai sutra, namun menusuk lebih dalam dari jarum.
"Itulah yang kau dapatkan saat menuangkannya untuk ular," balasku, menuang anggur ke cangkir giokmu. Permainan kami dimulai. Dulu, ini hanyalah candaan anak-anak. Sekarang, setiap kata adalah pedang yang diasah tajam.
Kita tumbuh bersama di istana ini, di bawah bayang-bayang ayah, Kaisar yang lalim. Kau, sang putri sulung yang dicintai, dan aku, putri angkat yang selalu diabaikan. Namun, kita memiliki rahasia. Rahasia yang mengikat kita, dan kini, yang akan menghancurkan kita.
Aku menulis puisi untukmu, Mei Hua. Bait-bait tentang kecantikanmu yang memabukkan, tentang keberanianmu yang menginspirasi, tentang cintaku yang terlarang. Tapi, aku tak berani menyebut namamu. Karena menyebut namamu berarti mengundang kematian.
Dulu, aku percaya padamu. Aku pikir kita adalah sekutu, dua anak perempuan yang terjebak dalam sangkar emas. Tapi, aku salah. Kau punya ambisi. Kau menginginkan takhta. Dan kau rela mengorbankanku untuk mendapatkannya.
Ingatkah kau malam itu, Mei Hua? Malam ketika ayahanda wafat secara misterius? Kau menuduhku. Kau menunjukku sebagai pengkhianat. Kau menjebloskanku ke penjara bawah tanah. Kau tahu aku tidak bersalah.
"Kau mencuri hatiku, Anggrek Bulan," bisikmu di selku, wajahmu diterangi obor yang menari-nari. "Kau mencuri takhta yang seharusnya menjadi milikku."
"Aku tidak menginginkan takhta," jawabku, suaraku bergetar. "Aku hanya menginginkan kau."
Kau tertawa. Tawa yang dingin, tanpa emosi. "Kau naif, Anggrek Bulan. Cinta adalah kelemahan. Dan aku tidak bisa mentolerir kelemahan."
Kemudian, aku mengerti. Kau bukan sekutu. Kau adalah racun yang perlahan membunuhku dari dalam.
Kebenaran mulai terkuak. Selama bertahun-tahun, aku mengumpulkan bukti. Surat-surat rahasia, saksi bisu, petunjuk yang ditinggalkan dalam puisi-puisiku. Aku mengungkap kebenaran tentang kematian ayahanda. Kau yang meracuninya.
Sekarang, tiba saatnya. Aku berdiri di hadapanmu, di atas altar yang dulu kita impikan bersama. Di sekeliling kita, pasukan berkuda berbaris rapi. Matahari terbenam, mewarnai langit dengan warna merah darah.
"Kau tahu, Mei Hua," kataku, pedangku terhunus. "Aku selalu mencintaimu. Bahkan setelah semua yang kau lakukan."
"Cinta adalah kebohongan, Anggrek Bulan," jawabmu, senyum sinis terukir di wajahmu. "Dan aku tidak pernah mencintaimu."
Pertempuran dimulai. Pedang beradu, darah memercik. Aku bertarung bukan untuk takhta, bukan untuk kekuasaan. Aku bertarung untuk kebenaran, untuk keadilan, untuk cinta yang kau khianati.
Aku melihat kekalahan di matamu, Mei Hua. Aku melihat penyesalan. Tapi, sudah terlambat. Terlalu terlambat.
Aku menusukmu. Pedangku menembus jantungmu. Kau tersungkur di pelukanku.
"Aku... seharusnya... membunuhmu... sejak lama..." bisikmu, darah mengalir dari mulutmu.
Aku memelukmu erat. Air mataku membasahi wajahmu. "Aku... seharusnya... memberitahumu... dari dulu..."
Kemudian, kau menghembuskan napas terakhir. Aku memelukmu erat, membiarkan air mataku menetes ke wajahmu.
Kebenaran terungkap. Aku membalas dendam. Tapi, aku tidak merasakan kemenangan. Aku hanya merasakan kehampaan.
Andai saja aku berani menyebut namamu dalam puisi itu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi...
You Might Also Like: Agen Kosmetik Passive Income Kota