## Racun yang Mengikat Jantungku Senja merayap di cakrawala, mewarnai Danau Barat dengan gradasi jingga dan ungu. Di tepi danau, aku duduk, memeluk lutut erat-erat. Di depanku, berdiri dia – Li Wei, pria yang namanya dulu adalah melodi terindah, kini bagai belati berkarat yang menusuk jantungku berulang kali. Dulu, di bawah pohon *osmanthus* yang sama ini, ia berjanji. Janji sehidup semati. Janji untuk menua bersama. Janji yang kini tinggal debu yang diterbangkan angin. "Xiao Mei," bisiknya, suaranya serak. Aku tahu dia menyesal. Aku *bisa* merasakannya. Tapi penyesalan, Wei, tak akan pernah cukup. "Kau ingat, Wei? Saat bintang jatuh di malam festival lampion? Kau bilang, kau akan selalu menjadi pelindungku. Cahayaku," aku menjawab, suaraku nyaris tak terdengar. Dia mengangguk, matanya berkilat sendu. "Aku... aku tahu aku salah. Aku sudah menghancurkan segalanya." Ya. Dia sudah menghancurkan segalanya. Hatinya, yang dulu hanya milikku, kini terbagi untuk wanita lain. Kekayaan, kekuasaan, dan ambisi telah membutakannya. Janji suci tergilas di bawah kaki keserakahannya. "Kau tahu, Wei," aku melanjutkan, "kau selalu bilang aku rapuh seperti bunga sakura. Indah, tapi mudah layu." Aku tertawa hambar. "Kau salah. Aku sekuat es di musim dingin. Aku *bisa* membeku, Wei. Bahkan hatiku." Aku berdiri, menatapnya lurus. Cahaya senja menimpa wajahku, menyembunyikan air mata yang mati-matian kutahan. "Kau tahu racun *manjing*. Dulu kau bilang, itu adalah obat yang paling ampuh untuk luka hati. Tapi tahukah kau, Wei? Racun itu *mengikat* jantung. Tak membunuh, tapi membuatnya berdenyut dalam siksaan abadi." Aku berbalik, meninggalkannya terpaku di tepi danau. Aku tahu, pernikahan politiknya akan membawanya pada puncak kekuasaan yang ia idamkan. Tapi aku juga tahu, ia akan membayarnya dengan mahal. Setiap kali ia meraih kekayaan, setiap kali ia merasakan kesuksesan, bayang-bayangku akan selalu menghantuinya. Racun manjing itu sudah bekerja, Wei. Ia sudah menyebar ke dalam nadimu, mengalir bersama darahmu, abadi. *Takdir* punya cara sendiri untuk menuntut keadilan. Ia tak perlu pedang berdarah atau sumpah serapah. Cukup dengan satu bisikan di telinga, satu bayangan di pelupuk mata, satu rasa sesal yang tak pernah bisa terhapus. Aku berjanji, Wei, kau akan menyesalinya seumur hidupmu, dan aku akan memastikan kau *merasakan* setiap detiknya… dan mungkin, hanya *mungkin*, rasa sesal itu akan lebih membara dari rasa cinta yang pernah kita miliki.
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Mimpi Dicakar Burung

Share on Facebook