**Air Mata yang Menjadi Penutup Kisah** Hujan gerimis membasahi paviliun tempat dulu kami berjanji. Aroma bunga plum yang dulu kusuka, kini hanya menyisakan kenangan pahit. Jingga senja meredup, sama redupnya dengan harapan yang pernah kupendam untuknya. Di hadapanku, berdiri Zhao Wei, pria yang pernah mengukir namaku di hatinya, lalu menghapusnya begitu saja demi ambisi dan kekuasaan. Wajahnya yang dulu penuh tawa, kini dipenuhi garis-garis penyesalan yang terlambat. "Lin Yue…" bisiknya lirih, suaranya serak tertahan. "Aku…aku tahu aku telah menghancurkan segalanya." Tanganku terkepal di balik lengan jubah. Aku menatapnya dengan tatapan sedingin es. Dulu, air mataku adalah sungai yang mengalir deras karena cintaku padanya. Sekarang, setiap tetesnya adalah racun yang akan membalas dendam. Dulu, dia berjanji akan selalu melindungiku, akan membawaku terbang setinggi angkasa. Dulu, dia berkata cintanya abadi. Tapi, janji itu dilanggarnya dengan mudah. Ambisi membutakannya, membuatnya memilih tahta daripada aku. "Kau tahu?" ujarku pelan, setiap kata terasa seperti pecahan kaca. "Tahukah kau, berapa banyak malam yang kuhabiskan untuk menangis? Berapa banyak luka yang kau torehkan di hatiku?" Zhao Wei terdiam, menundukkan kepala. Dia tahu. Dia tahu segalanya. Aku mengeluarkan *sebuah kotak kecil* dari balik jubahku. Di dalamnya, terdapat gelang giok yang dulu kuberikan padanya. Gelang itu retak, sama retaknya dengan hatiku. "Ini," kataku, melemparkan kotak itu ke kakinya. "Ambil kembali. Bersama dengan semua kenangan pahit yang kau berikan padaku." Dia berlutut, memungut kotak itu dengan tangan gemetar. Air mata mulai mengalir di pipinya. Sungguh pemandangan yang ironis. Air mata *penyesalan* yang tak akan pernah bisa menebus kesalahannya. "Lin Yue… kumohon…" Aku mengangkat tangan, menghentikan ucapannya. "Jangan memohon padaku. Mohonlah pada takdir. Karena hanya takdir yang bisa memberimu pengampunan." Aku berbalik, melangkah pergi meninggalkan paviliun yang dipenuhi kenangan menyakitkan. Di kejauhan, kulihat para prajurit kekaisaran mendekat. Mereka membawa perintah **TERBARU** dari kaisar – perintah yang akan merampas semua yang Zhao Wei miliki, termasuk tahtanya. Aku tidak ikut campur. Aku tidak melakukan apa pun. Biarkan takdir yang menuntut keadilan. Di sini, di tengah kehancuran cinta dan ambisi, aku mengerti satu hal: dendam bukanlah jawabannya. Tapi, terkadang, *takdir memiliki cara yang lebih indah* untuk menghukum para pengkhianat. Cinta telah mati, dendam belum usai, tapi takdir baru saja dimulai.
You Might Also Like: 10 Altes Keltisches Mythologisches

Share on Facebook