**Kau bilang ini cinta terlarang, tapi kenapa terasa paling benar.** Di antara kabut *unggul* dan mimpi yang belum sepenuhnya terjaga, aku melihatmu. Siluetmu terukir di kanvas langit senja, setiap garisnya adalah janji yang **TAK** terucap. Apakah kau nyata? Atau hanya ilusi yang terlukis oleh kerinduan hatiku? Waktu berhenti berputar saat matamu bertemu mataku. Seperti dua sungai yang menemukan muaranya, tatapan kita menyatu dalam hening yang *memekakkan*. Di sana, di kedalaman iris matamu, aku melihat taman-taman terlarang, kisah-kisah yang belum tertulis, dan sebuah _cinta_ yang membara. Kau adalah melodi yang **TAK** pernah kumainkan, aroma bunga plum di musim dingin yang abadi. Suaramu adalah bisikan angin di antara reruntuhan kuil kuno, menggugah jiwa yang telah lama tertidur. Setiap sentuhanmu adalah sentuhan mimpi, ringan namun membekas *selamanya*. Kau bilang ini cinta terlarang. Kenapa? Karena kita terikat oleh rantai tak kasat mata, aturan yang tak tertulis, dan takdir yang mungkin **TAK** pernah ditakdirkan untuk kita? Tapi hatiku berbisik lain. Di setiap detik bersamamu, aku merasakan kebenaran yang *palpable*, cinta yang murni, dan jiwa yang akhirnya menemukan rumahnya. Kita menari di antara dimensi waktu yang terlupakan, di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan berbaur menjadi satu. Di sana, di tengah pusaran kenangan dan harapan, kita menciptakan realitas kita sendiri. Realitas yang mungkin hanya ada di antara halaman buku tua, lukisan usang, atau melodi yang dimainkan oleh seruling bambu di malam sepi. Lalu, *malam* itu tiba. Di bawah rembulan yang pucat, kau mengungkapkan kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik senyum misteriusmu. Kau adalah reinkarnasi dari kekasihku di kehidupan lampau, terpisahkan oleh perang dan dendam. Kita ditakdirkan untuk bertemu, mencintai, dan *terpisah* lagi. Pengungkapan itu bagai pedang bermata dua. Memecahkan misteri yang selama ini menghantuiku, namun sekaligus mengiris hatiku dengan luka yang *lebih dalam*. Keindahan cinta kita yang tak nyata, yang selama ini kupegang erat, kini terasa begitu rapuh, begitu *sementara*. Di tengah *kehancuran* hatiku, aku menyadari satu hal: cinta kita memang terlarang, bukan karena aturan atau takdir, tapi karena kita terikat oleh masa lalu yang tak bisa kita ubah. Kita adalah dua bintang yang *bertabrakan* dalam kegelapan, menciptakan keindahan sesaat sebelum akhirnya meledak menjadi debu. Namun, sebelum kau menghilang lagi ke dalam kabut waktu, aku mendengar bisikanmu, lembut dan penuh penyesalan: *"Di kehidupan selanjutnya, aku akan menemukanmu lagi..."*
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Modal Kecil Untung

Share on Facebook