**Aku Mencari Wajahmu di Antara Bintang, Tapi Semua Bintang Berbohong** Hujan kota adalah kanvas abu-abu tempat aku melukis wajahmu. Bayangmu menari di pantulan lampu neon pada aspal basah, setiap kilauan mengingatkanku pada senyummu – senyum yang kini terasa seperti _dusta_. Kita bertemu di antara notifikasi. Sebuah *tweet* iseng, lalu DM larut malam yang berujung pada percakapan tanpa akhir tentang mimpi, harapan, dan rasa takut yang kita pendam. Kau, dengan aura misteriusmu, dan aku, yang terlalu polos untuk melihat _bahaya_ yang mengintai. Aroma kopi, aroma yang dulu menenangkan, kini hanya membangkitkan kenangan. Kenangan tentang kafe kecil di sudut kota, tempat kita merencanakan masa depan. Masa depan yang ternyata hanyalah ilusi, proyeksi harapan yang terlalu tinggi. Ponselku dipenuhi sisa-sisa chat yang tak terkirim. Kata-kata yang menggantung di udara, tidak pernah mencapai telingamu. Seperti bintang jatuh yang cahayanya menghilang sebelum sempat menyentuh bumi. Setiap malam, aku membaca ulang percakapan kita, mencoba mencari petunjuk, mencari tahu di mana semua _kesalahan_ bermula. Kehilangan ini terasa samar, seperti kabut yang perlahan menyelimuti jantungku. Aku merindukanmu, tapi aku tidak tahu siapa yang sebenarnya kurindukan. Apakah aku merindukan kau yang dulu kukenal, atau hanya bayangan khayalan yang kubuat sendiri? Kemudian, sebuah *rahasia* terungkap. Foto lama yang muncul entah dari mana, pesan singkat yang salah kirim, sebuah kebetulan yang menghancurkan semua ilusi. Kau tidak seperti yang kukira. Kau adalah sosok yang berbeda, dengan masa lalu yang kelam dan tujuan yang tersembunyi. Semua bintang berbohong. Mereka tidak menunjukkan jalan, mereka hanya memancarkan cahaya palsu, menutupi kebenaran yang menyakitkan. Saatnya balas dendam, tapi bukan dendam yang berapi-api. Balas dendam yang lembut, sehalus bisikan angin. Aku menulis sebuah pesan. Pesan terakhir. Bukan cacian, bukan makian, hanya sebuah pengakuan. Aku mengakui kebodohanku, aku mengakui kekalahanku, dan yang terpenting, aku mengakui bahwa aku tidak lagi mencintaimu. Aku memblokir nomormu, menghapus semua foto, menghapus semua jejakmu dari hidupku. Aku tersenyum. Senyum terakhir. Senyum yang bukan lagi untukmu. Aku memilih untuk pergi. Meninggalkan semua kenangan, semua mimpi, semua _kebohongan_. Aku melangkah menuju masa depan yang tidak lagi melibatkanmu. Dan yang tersisa hanyalah ruang kosong di hatiku, ruangan yang tidak akan pernah lagi kau isi. *Sunyi.*
You Might Also Like: 115 Rahasia Pelembab Skin Barrier Lokal

Share on Facebook