Baiklah, ini dia kisah dracin berjudul "Aku Menjadi Notifikasi Hati Yang Tak Pernah Diabaikan": **Aku Menjadi Notifikasi Hati Yang Tak Pernah Diabaikan** Aula Keemasan *Magnificent*, tempat para pejabat kerajaan berkumpul, terasa menyesakkan. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya redup, gagal menyembunyikan kerutan khawatir di wajah para menteri. Di singgasana, Kaisar Li Wei duduk dengan angkuh, tatapannya tajam mengamati setiap gerak-gerik. Bisikan-bisikan pengkhianatan mengalir bagai racun di balik tirai sutra, meracuni udara dengan kecurigaan. Di istana ini, setiap senyum adalah topeng, setiap janji adalah tali yang siap menjerat. Aku, Lin Yue, hanyalah seorang selir rendahan. Dulunya, aku hanyalah seorang pelayan yang tidak sengaja tertangkap basah oleh Kaisar saat sedang memetik bunga di taman. Takdir membawaku ke tempat ini, menjebakku dalam jaring *KEKUASAAN* dan intrik. Namun, yang tidak diketahui oleh siapapun, aku juga memiliki 'notifikasi' khusus yang hanya bisa didengar Kaisar Li Wei. Notifikasi berupa suara hatiku. Dan notifikasi itu tidak bisa diabaikan. Suatu hari, ketika Kaisar sedang membahas strategi perang dengan para jenderal, aku tiba-tiba merasakan sakit di dada. Sakit yang *MENUSUK*. Detik berikutnya, Kaisar Li Wei memegangi dadanya, wajahnya pucat pasi. "Lin Yue..." bisiknya lemah, matanya mencari-cariku di antara kerumunan selir. Sejak saat itu, dia menyadari bahwa perasaanku terhubung dengannya. Kaisar menggunakan 'anugerah' ini untuk kepentingannya sendiri. Setiap kali ada ancaman pembunuhan, setiap kali ada pengkhianat yang bersembunyi, aku menjadi *PERINGATAN* baginya. Aku menjadi bentengnya. Namun, di balik kekuasaan itu, tumbuhlah benih cinta. Kaisar Li Wei, yang dingin dan kalkulatif, mulai menunjukkan sisi lembutnya padaku. Dia membawaku ke taman rahasia, menghadiahiku dengan bunga langka, dan menatapku dengan tatapan yang membuat jantungku berdebar kencang. "Lin Yue," katanya suatu malam, di bawah cahaya rembulan, "aku tidak pernah percaya pada cinta. Tapi... kau mengubahku. Kau adalah *KEKUATANKU*, sekaligus kelemahanku." Aku membalas tatapannya, merasakan kebahagiaan bercampur takut. Cinta kami adalah permainan takhta. Setiap ciuman adalah taruhan. Setiap pelukan adalah ancaman. Musuh-musuh Kaisar, terutama Permaisuri yang haus kekuasaan, mulai menganggapku sebagai duri dalam daging. Mereka merencanakan untuk menyingkirkanku, menghancurkan ikatan antara aku dan Kaisar. Permaisuri, wanita yang selalu diselimuti kebencian, mencoba meracuniku. Namun, Kaisar Li Wei berhasil menggagalkan rencana itu. Pertempuran di istana semakin memanas. Darah tertumpah, nyawa melayang. Aku tahu, suatu saat, aku harus memilih. Antara cinta dan *KEWAJIBAN*. Akhirnya, saat yang ditakutkan tiba. Para pemberontak menyerbu istana, dipimpin oleh paman Kaisar yang ambisius. Kaisar terluka parah, dan Permaisuri memanfaatkan kesempatan itu untuk mengkhianatinya. Dia bersekongkol dengan para pemberontak, menjanjikan takhta kepada paman Kaisar. Di tengah kekacauan, aku menemukan diriku berhadapan dengan Permaisuri. Dia tersenyum sinis. "Kau pikir Kaisar mencintaimu? Kau hanya boneka baginya. *BONEKA* yang akan segera dihancurkan!" Saat itulah, sesuatu dalam diriku *BERUBAH*. Selama ini, aku hanya diam. Selama ini, aku hanya mengikuti arus. Tapi sekarang, aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku akan membalas dendam. Dengan gerakan yang anggun namun mematikan, aku mencabut tusuk konde perak dari rambutku. Tusuk konde itu, hadiah dari Kaisar. Dengan satu tusukan, aku mengakhiri hidup Permaisuri. Tidak ada teriakan. Tidak ada penyesalan. Hanya *KEHENINGAN*. Aku maju, elegan dan dingin, dan memberikan perintah yang tidak bisa dibantah para pemberontak, menunjukkan dekrit rahasia dari Kaisar yang jauh-jauh hari sudah disiapkan, yang menunjuk diriku sebagai wali takhta sampai pewaris yang sah ditunjuk, dan dengan kecerdasan tak tertandingi, membereskan setiap pemberontak. Balas dendamku selesai. Elegan, dingin, tapi mematikan. Dan tahta itu kini berlumuran darah, menunggu sentuhan tangan yang berbeda.
You Might Also Like: Air Mata Yang Menjadi Penebusan

Share on Facebook