**Kau Memilih Tahta, Aku Memilih Luka** Aroma dupa cendana berpadu pahit dengan bau mesiu yang tersisa di gaunku. Dulu, aku, Mei Lan, adalah tunangan Putra Mahkota. Sekarang? Aku hanyalah bayangan yang menyelinap di koridor istana yang pernah menjadi rumahku, hatiku, *segala-galanya*. Dulu, matanya, mata Li Wei, memancarkan janji cinta abadi. Sekarang, matanya dingin seperti pedang yang menebas hatiku. Ia memilih tahta. Ia memilih klan yang lebih kuat. Ia memilih... *wanita lain*. Luka itu menganga. Terasa seperti bunga teratai yang dicabut paksa dari akarnya. Sakitnya begitu nyata, begitu dalam, hingga aku merasa seluruh hidupku adalah sebuah _lelucon_. Namun, di balik kehancuran ini, tumbuhlah sesuatu yang baru. Sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Bunga teratai yang patah itu belajar tumbuh di medan perang. Akarnya menjalar, mencengkeram tanah yang tandus, mencari kekuatan dalam setiap tetes air mata. Aku tak lagi Mei Lan yang dulu. Aku adalah Mei Lan yang ditempa api pengkhianatan. Aku adalah Mei Lan yang belajar menyembunyikan pedih di balik senyum anggun. Aku belajar mengendalikan emosi, menjadikannya senjata yang lebih ampuh dari pedang manapun. Hari-hariku diisi dengan belajar strategi perang, mempelajari intrik istana, dan mengumpulkan sekutu. Aku membaur dengan para dayang, mendengarkan bisikan-bisikan rahasia, dan menyusun rencana. Balas dendamku tak akan berlumuran darah. Aku tak akan menodai tanganku dengan kekerasan. Balas dendamku adalah *kebangkitan*. Li Wei, dengan segala kekuasaan dan tahtanya, akan menyaksikan kerajaannya runtuh. Bukan karena peperangan, tapi karena fondasi yang rapuh: keserakahan dan pengkhianatan. Aku akan menjadi angin yang berbisik di telinganya, mengingatkannya akan cintaku yang ia buang, akan janji yang ia ingkari, akan penyesalan yang akan menghantuinya selamanya. Waktunya tiba ketika klan yang ia pilih ternyata menjadi duri dalam daging. Intrik mereka, keserakahan mereka, akhirnya menghancurkan Li Wei dari dalam. Aku menyaksikan semua itu dari kejauhan, dengan senyum tipis yang terukir di bibirku. Bukan senyum kemenangan, tapi senyum *pembebasan*. Ketika debu akhirnya mengendap, kerajaan itu membutuhkan pemimpin baru. Bukan seorang tiran yang haus kekuasaan, tapi seorang pemimpin yang bijaksana, yang mengerti penderitaan rakyat, dan yang mampu menyatukan kembali kepingan-kepingan yang pecah. Mata seluruh negeri tertuju padaku. Mei Lan, wanita yang pernah dihinakan, kini berdiri tegak, bukan sebagai tunangan yang ditolak, tapi sebagai pemimpin yang dinanti. Aku maju, dengan kepala tegak, mengenakan jubah sederhana namun berwibawa. Aku siap menerima takdirku. Aku siap memimpin. “Kalian mencari ratu yang agung? Kalian akan menemukan…”
You Might Also Like: Echidne Nez Court Wikipedia Echidna

Share on Facebook