## Senja di Balik Lentera Patah Hujan menggigil di Jembatan Willow, persis seperti hatiku saat pertama kali melihatmu di sini. Dulu, tawa kita menggema mengalahkan riuhnya sungai. Sekarang, hanya desau angin yang menyayat, membawa serpihan kenangan yang terlalu pahit untuk ditelan. Lima tahun berlalu. Lima tahun aku mencoba melupakan senyummu, aroma teh oolong yang selalu kau seduhkan, dan janji-janji yang kau bisikkan di bawah *pohon sakura* yang sekarang telanjang. Lima tahun aku tersesat, benar-benar kehilangan arah. Kau kembali. Dengan balutan jas mahal dan tatapan dingin, kau berdiri di hadapanku. Bayanganmu memanjang, mematahkan cahaya lentera yang nyaris padam di belakangmu. Kau menyapa dengan nada datar, seolah kita hanya dua orang asing yang kebetulan bertemu di senja yang kelabu ini. "Lama tidak berjumpa, Mei." Jantungku berdegup kencang, bukan karena bahagia, melainkan karena ketakutan. Kau tahu betul bagaimana caranya membuatku bertekuk lutut. Dulu, dengan cinta. Sekarang, dengan tatapan yang terasa seperti pisau es. Kau bercerita tentang kesuksesanmu, tentang perusahaanmu yang meroket, tentang *kehidupan sempurna* yang kau bangun. Aku mendengarkan dalam diam, merasakan nyeri yang menjalar di dadaku. Setiap kata yang kau ucapkan adalah cambuk yang mengingatkanku pada pengkhianatanmu. Pengkhianatan yang merenggut segalanya dariku. Ingatkah kau, Jing? Bagaimana kau meninggalkanku di hari pernikahanku? Kabur dengan wanita lain, meninggalkan aku di altar dengan air mata yang tak kunjung kering? Aku melihatmu. Melihat kilatan keangkuhan di matamu. Kau pikir aku sudah melupakan semuanya? Kau pikir aku akan membiarkanmu bahagia setelah apa yang kau lakukan? Tidak. Aku menyentuh tangannya. Kulitnya terasa dingin dan asing. Aku tersenyum. Senyum yang mungkin tidak kau kenali. Senyum yang tidak lagi polos dan penuh cinta, melainkan senyum *mematikan*. "Kau tahu, Jing?" bisikku pelan, suaraku nyaris tenggelam dalam gemuruh hujan. "Semua yang terjadi padaku selama ini... semuanya adalah bagian dari rencanaku." Kau mengerutkan kening. "Rencana?" Aku mengangguk. "Ya. Rencana untuk membuatmu merasakan sakit yang sama. Bahkan... *lebih sakit*." Kau tertawa sinis. "Kau pikir bisa menyakitiku, Mei? Kau pikir kau punya kekuatan untuk melakukan itu?" Aku menatap matamu dalam-dalam. "Kau salah, Jing. Aku tidak punya kekuatan. Tapi... *dia* punya." Aku menunjuk ke arah bayanganmu yang memanjang dan mematahkan cahaya lentera. "Dan bayangan itu... *selalu* bersamamu." Hujan semakin deras. Cahaya lentera padam sepenuhnya. Senja menelan kita dalam kegelapan. Tapi, siapa sebenarnya *dia* yang kumaksud, dan apa yang tersembunyi di balik bayangan Jing selama ini, adalah sebuah rahasia yang... *belum saatnya diungkapkan*.
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Jualan Online

Share on Facebook