Tentu, ini dia kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Bayangan yang Diam di Dalam Hati': **Bayangan yang Diam di Dalam Hati** Hujan musim semi membasahi Shanghai. Di balik jendela apartemen mewahnya, Lin Mei berdiri, gelas anggur merah di tangannya. Pemandangan kota yang gemerlap tak mampu mengalihkan pandangannya dari _kenangan_ yang memudar, seperti lukisan cat air yang terkena air. Lima tahun lalu, di tempat ini, di bawah lampu kristal yang sama, Li Wei berlutut, menyematkan cincin berlian di jarinya. *Janji abadi* terucap, manisnya bagai madu. Namun, madu itu kini terasa bagai racun yang perlahan membunuh hatinya. Senyumnya dulu, senyum yang selalu membuat jantung Lin Mei berdebar, kini terasa *menipu*. Pelukannya, dulu tempat ternyaman di dunia, kini terasa *beracun*. Janji-janji yang terukir indah, kini berubah menjadi *belati* yang menusuk tanpa ampun. Li Wei, dengan ambisinya yang membara, memilih jalan pintas menuju puncak. Cinta Lin Mei dikorbankan di altar kekuasaan. Ia menikahi putri seorang konglomerat, meninggalkan Lin Mei dengan hati yang hancur berkeping-keping. Namun, Lin Mei bukan wanita lemah. Ia menyembunyikan lukanya di balik *elegansi*. Air mata ditahannya, digantikan dengan senyum dingin. Ia bangkit, membangun kerajaan bisnisnya sendiri, melampaui pencapaian Li Wei. Lima tahun kemudian, Lin Mei bertemu kembali dengan Li Wei. Pria itu, kini hidup dalam bayang-bayang mertuanya, terlihat *menua dan kelelahan*. Matanya, dulu penuh semangat, kini dipenuhi penyesalan. Pertemuan itu singkat, namun menusuk. Lin Mei menawarkan bantuan, sebuah *'pertolongan'* yang akan mengikat Li Wei lebih dalam ke perusahaannya. Tawaran itu diterima dengan senang hati, tanpa menyadari bahwa ia tengah menjerat dirinya sendiri dalam *jaring laba-laba* yang Lin Mei rancang dengan cermat. Lin Mei menyaksikan Li Wei hancur perlahan. Ia melihatnya kehilangan segalanya: kekuasaan, kehormatan, bahkan istrinya. Namun, ia tidak merasakan kepuasan. Hanya kehampaan. Balas dendamnya terasa *manis sekaligus pahit*. Malam itu, Lin Mei kembali berdiri di depan jendela, anggur merahnya masih utuh. Hujan telah berhenti, meninggalkan langit yang kelabu. Ia menarik napas dalam, merasakan sakit yang familiar di dadanya. Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bisnis Tanpa Stok

Share on Facebook