Tentu, ini dia kisah dracin pendek yang Anda minta: **Pedang yang Menghapus Luka Ratu** Angin pegunungan mengusap lembut wajah Bai Lian, menerbangkan helaian rambut hitam legamnya. Ia berdiri di puncak Paviliun Angin, memandang lembah yang diselimuti kabut pagi. Keindahan ini… *familiar*. Tapi, ingatan itu buram, seperti lukisan yang luntur oleh waktu. Di kehidupannya sekarang, Bai Lian hanyalah seorang tabib desa yang sederhana. Namun, setiap kali ia menyentuh *Hanbing*, pedang pusaka yang ditemukannya di sungai saat masih kecil, bayangan-bayangan masa lalu menyeruak. Bayangan tentang istana megah, pertempuran berdarah, dan seorang pria… seorang pria yang menusuknya dari belakang. Pria itu… *Siapa dia?* Bai Lian melatih pedangnya setiap hari. Bukan untuk membunuh, tapi untuk menenangkan *Hanbing*. Energi pedang itu beresonansi dengan jiwanya, membangkitkan kemarahan dan kesedihan yang mendalam. Setiap gerakan pedang, setiap tebasan, adalah upaya untuk mengingat, untuk menyatukan kepingan-kepingan masa lalu. Suatu hari, seorang utusan kerajaan tiba di desa. Kaisar – seorang pria muda yang berwajah lembut namun tatapannya dingin – mengundang Bai Lian ke istana untuk mengobati penyakit misterius Permaisuri. Bai Lian menolak. Namun, sang utusan memberikan sebuah gelang giok, gelang yang sangat dikenalnya. Gelang itu adalah miliknya… DULU. Di istana, Bai Lian melihatnya. Kaisar. *Wajah itu!* Wajah yang dulu dipujanya, wajah yang dulu membuatnya rela memberikan segalanya. Wajah yang menusuknya di kehidupan sebelumnya. Dia adalah PENGKHIANAT itu. Ingatan itu menghantamnya seperti gelombang pasang. Dia, Bai Lian, adalah *Ratu Awan*, istri setia Kaisar yang kemudian difitnah dan dibunuh atas tuduhan palsu pengkhianatan. Kekaisaran yang makmur, dibangun di atas darah dan pengorbanannya, kini diperintah oleh pria yang membunuhnya. Kaisar tidak mengenalinya. Dia melihat Bai Lian hanya sebagai tabib desa yang memiliki bakat luar biasa. Ia memohon pada Bai Lian untuk menyelamatkan Permaisuri, seorang wanita yang sangat dicintainya. Bai Lian menatap Kaisar. Ia bisa saja membunuhnya saat itu juga. *Hanbing* mendesak, haus akan darah. Tapi, Bai Lian tidak akan membiarkan dendam membutakannya. Balas dendam yang sebenarnya bukan membunuh, tapi *menghapus jejaknya*. Bai Lian setuju untuk mengobati Permaisuri. Ia menggunakan keahliannya, bukan hanya untuk menyembuhkan sang Permaisuri, tapi juga untuk menanamkan benih keraguan di benak Kaisar. Ia menanamkan ingatan samar tentang kehidupan sebelumnya, ingatan tentang seorang ratu yang dicintai dan dikhianati. Perlahan, Kaisar mulai berubah. Ia menjadi paranoid, mencurigai semua orang di sekitarnya. Ia mulai meragukan keputusannya, meragukan kekuasaannya. Ia mulai melihat bayangan Ratu Awan di setiap sudut istana. *KEKUASAANNYA mulai runtuh*. Pada akhirnya, Kaisar turun tahta, menyerahkan kekaisaran kepada putranya yang masih muda. Ia pergi mengembara, mencari penebusan atas dosa-dosanya. Bai Lian kembali ke desanya. Ia tidak pernah mengungkapkan identitas aslinya. Dendamnya telah terbalaskan. Bukan dengan darah, tapi dengan menghancurkan fondasi kehidupannya. Ia telah menghapus jejaknya dari sejarah. Di bawah langit senja, Bai Lian memandang *Hanbing*. "Waktunya belum tiba… mungkin seribu tahun lagi kita bertemu, Pangeran Kegelapan, dan saat itu... aku akan memilih **KEHANCURANMU.**"
You Might Also Like: Cerpen Seru Air Mata Yang Menjadi Embun

Share on Facebook