Baik, inilah kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Tangisan yang Terlupakan oleh Waktu', dengan penekanan yang Anda minta: **Tangisan yang Terlupakan oleh Waktu** Kabut tipis menyelimuti Danau Barat, serupa dengan kabut yang menyelimuti hati Lin Mei. Gaun sutra berwarna *safir* yang membalut tubuhnya bergerak anggun seiring angin sepoi-sepoi, menyembunyikan kerapuhan yang nyaris meremukkan tulang. Senyumnya, yang dulu bagai mentari pagi, kini hanyalah topeng yang ***terlatih sempurna***. Dulu, senyum ini membalas tatapan penuh puja dari Li Wei. Dulu, danau ini menjadi saksi bisu janji-janji abadi di bawah rembulan. Dulu, Lin Mei percaya, cinta mereka sekuat tebing karang yang tak tergoyahkan ombak. Tapi waktu, sungguh kejam. Li Wei, dengan mata elang yang dulu hanya melihat Lin Mei, kini menatap wanita lain dengan tatapan serupa. Pelukan hangatnya, yang dulu bagai perlindungan dari badai dunia, kini terasa bagai lilitan ular berbisa. Janji-janjinya, yang dulu diukir di langit malam, kini berubah menjadi belati perak *yang menusuk jantungnya dengan dingin*. Lin Mei tidak berteriak. Ia tidak meraung. Ia tidak menangis di depan khalayak. Ia menyimpan semua pedih di kedalaman jiwanya, menyembunyikan luka di balik aura **ELEGANSI** yang menakjubkan. Ia adalah batu permata yang terasah oleh penderitaan, semakin berkilau meski retak di dalamnya. Bertahun-tahun berlalu. Li Wei meraih puncak kekuasaan, menikahi wanita yang ia puja, dan menikmati kemewahan hidup yang tak terhingga. Tapi kebahagiaan itu terasa hambar. Bayangan Lin Mei selalu hadir di sudut matanya, ***seperti hantu yang tak bisa diusir***. Suatu malam, ia menerima sebuah undangan ke pameran lukisan amal. Di sana, tergantung sebuah potret dirinya, dilukis dengan begitu detail, begitu hidup, hingga ia merasa Lin Mei ada di hadapannya. Di bawah lukisan itu, terukir sebuah kalimat singkat: "Untuk Li Wei, yang memilih ilusi daripada ketulusan." Lukisan itu harganya *fantastis*. Dibeli oleh seseorang yang misterius. Li Wei mencari tahu siapa pembelinya. Dia menemukan bahwa orang tersebut menggunakan dana dari yayasan yang didirikan oleh Lin Mei. Yayasan yang didedikasikan untuk membantu wanita-wanita yang menjadi korban pengkhianatan. Li Wei akhirnya mengerti. Lin Mei tidak membalas dengan darah. Ia membalas dengan penyesalan abadi. Penyesalan yang akan menghantuinya hingga akhir hayat. Ia membalas dengan membuatnya mempertanyakan semua pilihan yang telah ia buat. Kebahagiaan Li Wei diracuni oleh bayangan wanita yang pernah ia cintai, dan racun itu merambat perlahan, namun pasti. Li Wei terpuruk dalam kesunyiannya sendiri, dikelilingi oleh kemewahan yang terasa hampa. Ia mencoba mencari Lin Mei, tapi wanita itu menghilang, bagai ditelan bumi. Satu-satunya jejak yang tertinggal adalah yayasan amal itu, *sebuah monumen bisu untuk cinta yang dibuang dan dendam yang membara*. Di balik Danau Barat yang berkilauan, di suatu tempat yang jauh, Lin Mei tersenyum tipis. Ia tahu, *dendamnya telah selesai*. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama… dan rasa sakit akan *selalu* mengingatkan kita tentang itu.
You Might Also Like: Ini Baru Drama Air Mata Yang Membentuk

Share on Facebook