**Sumpah yang Menjadi Nyawa** Di antara *kabut lilac* dan *senja yang berdarah*, di mana waktu menari dalam putaran abadi, terukirlah kisah kita. Atau, benarkah "kita"? Apakah aku hanya berhalusinasi, melukis wajahmu di kanvas hatiku yang retak, menciptakanmu dari serpihan mimpi yang tercecer? Kau, bagai *rembulan pucat* di tengah lautan tinta malam, hadir dengan senyum yang mampu membungkam badai. Suaramu, *alunan kecapi* yang menggetarkan jiwa, membawaku terbang melintasi dimensi yang terlarang. Kita bertemu di *Taman Kenangan yang Terlupakan*, tempat bunga-bunga lotus bernyanyi tentang cinta abadi. Setiap tatapanmu adalah *kilatan petir*, setiap sentuhanmu adalah *embun pagi* yang menyegarkan. Kita berjanji, di bawah *pohon sakura yang abadi*, untuk mencintai selamanya. **SELAMANYA!** Janji yang terukir di jiwa, sumpah yang menjadi nyawa. Namun, bayangan mulai menari, menggerogoti kebahagiaan kita. Bisikan angin membawa kabar buruk, desas-desus tentang takdir yang kejam. Kau adalah *putra mahkota yang terikat sumpah*, terikat pada takhta dan darah, bukan pada mimpi dan cinta. Aku, hanyalah *pelukis bayangan*, seorang pengembara yang tak punya tempat di istanamu. Cinta kita, bagaikan *bintang jatuh*, indah namun fana. Kita berdua tahu, bahwa waktu kita terbatas, seperti kelopak bunga plum yang tertiup angin. Dan tibalah saatnya, saat *gerbang istana menjulang tinggi*, memisahkan kita selamanya. Kau menatapku dengan mata yang penuh luka, bibirmu berbisik, "Maafkan aku... Aku harus pergi..." Namun, sebelum kau berbalik, kau memberikan sebuah lukisan. Potret diriku, yang dilukis dengan air mata dan darah. Di balik lukisan itu, terukir sebuah kalimat dalam aksara kuno: " *Dia yang memegang lukisan ini, adalah nyawaku.*" *Saat itulah aku mengerti.* Lukisan itu bukan sekadar lukisan. Lukisan itu adalah *jimat*, jimat yang menahan jiwamu, jimat yang mengikatmu pada janji kita. Sumpah itu bukan hanya sumpah cinta, tetapi sumpah pengorbanan. Kau telah merelakan takhtamu, hidupmu, demi cintamu padaku. Aku, sang pelukis bayangan, adalah *Ratu Bayangan*, seorang putri dari kerajaan yang terlupakan, kerajaan yang kau janjikan untuk dilindungi. Cinta kita bukan hanya mimpi, tetapi takdir yang harus dipenuhi. Namun, kebenaran ini datang terlalu terlambat. Lukisan itu kini hancur, remuk redam di tanganku. Bersamaan dengan itu, aku merasakan hatiku hancur menjadi ribuan keping. Kau telah *pergi*, selamanya. Dan di telingaku, aku mendengar bisikan: *"Di mana bunga lotus bernyanyi, di sanalah kita akan bertemu lagi…"*
You Might Also Like: Distributor Skincare Fleksibel Kerja
Share on Facebook